Kamis, 21 September 2017

kredit toyota jogja di Toyotajogjacenter.com

Temukan kemudahan kredit toyota jogja hanya di situs web https://toyotajogjacenter.com dan dapatkan banyak bonus menarik untuk pembelian kredit harian.

Rabu, 23 November 2016

Sejarah Motif Batik Ciamis dan Penjelasannya | Batik Tulis Indonesia

Batik Ciamis

 Ciamis memiliki tradisi turun temurun dalam sejarah kerajinan batik. Ada yang menyebutnya sudah ada sejak Kerajaan Galuh berjaya. Tapi,

yang pasti, ini sudah berlangsung sejak beberapa abad silam. Batik Ciamis memiliki karakter dan corak batik yang berbeda dengan batik Garut dan Tasik. Batik ciamisan tampil sederhana tapi penuh wibawa.

Kesederhaan ini tak lepas dari sejarah keberadaannya yang banyak dipengaruhi daerah lain, seperti ragam hias pesisiran dari Indramayu dan Cirebon. Selain itu, pengaruh batik nonpesisiran, seperti dari Solo dan Yogyakarta, tak kalah dominan. Pengaruh dari wilayah pesisir dan nonpesisir yang berpadu dengan nilai-nilai budaya Sunda dan kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Ciamis melahirkan ragam motif batik ciamisan yang sesuai dengan gaya dan selera masyarakat setempat, bersahaja tetapi elegant. Alhasil, corak batik ciamisan tidak memiliki makna filosofi, perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat. Kesederhanaan itu tertuang dalam entuk-bentuk yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari Motif batik di daerah Ciamis antara lain rereng lasem, parang sontak, rereng seno, rereng sintung ageung, kopi pecah, lepaan, rereng parang rusak,rereng adu manis, kumeli, rereng parang alit, rereng useup, rereng jenggot, rereng peuteuy papangkah.

Rabu, 28 September 2016

Pelopor Batik Indonesia:K.R.T. Hardjonagoro

Batik Pekalongan. Go Tik Swan (lebih dikenal dengan nama K.R.T. Hardjonagoro; lahir pada 11 Mei 1931) adalah seorang budayawan dan sastrawan Indonesia yang menetap di Surakarta. Ia dilahirkan sebagai putra sulung keluarga Tionghoa di kota Solo (Surakarta). Karena kedua orangtuanya sibuk dengan usaha mereka, Tik Swan diasuh oleh kakeknya dari pihak ibu, Tjan Khay Sing, seorang pengusaha batik di Solo. Ia mempunyai empat tempat pembatikan: dua di Kratonan, satu di Ngapenan, dan satu lagi di Kestalan, dengan karyawan sekitar 1.000 orang.

Sejak kecil Tik Swan biasa bermain di antara para tukang cap, dengan anak-anak yang membersihkan malam dari kain, dan mencucinya, mereka yang membubuhkan warna coklat dari kulit pohon soga, dan orang-orang yang menulisi kain dengan canting.

Ia juga senang mendengarkan mereka menembang dan mendongeng tentang Dewi Sri dan berbagai cerita tradisional Jawa. Dari mereka ia belajar mengenal mocopat, pedalangan, gending, Hanacaraka, dan tarian Jawa.

Tik Swan dikirim bersekolah di Neutrale Europesche Lagere School bersama warga kraton, anak-anak ningrat, anak-anak pemuka masyarakat, dan anak-anak pembesar Belanda. Ini disebabkan karena kedua orangtuanya adalah keturunan pemuka masyarakat Tionghoa pada saat itu. Ayahnya adalah cucu dari Luitenant der Chinezen di Boyolali sedangkan ibunya cucu Luitenant der Chinezen dari Surakarta.

Tidak jauh dari rumah kakeknya, tinggallah Pangeran Hamidjojo, putra Paku Buwana X, seorang indolog lulusan Universitas Leiden dan juga penari Jawa klasik. Di rumah sang pangeran selalu diadakan latihan tari yang sejak awal sudah mempesona Tik Swan. Sementara itu Pangeran Prabuwinoto membangkitkan minat Go Tik Swan pada karawitan Jawa.

Seusai perang, Tik Swan belajar di MULO di Semarang. Lulus dari VHO Voortgezet Hooger Onderwijs (VHO) di Semarang, orangtuanya ingin ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun ia sudah telanjur sayang dan jatuh cinta pada kebudayaan Jawa.

"Saya diam-diam masuk jurusan Sastra Jawa di Fakultas Sastra UI. Ketika ayah tahu, ia khawatir saya tidak bisa mencari nafkah yang memadai dengan memilih bidang itu," ceritanya.

Di Fakultas Sastra, ada dua pengajar yang dianggapnya berpengaruh besar terhadapnya Profesor Dr. Tjan Tjoe Siem, seorang ahli sastra Jawa lulusan Leiden yang berasal dari Solo dan Profesor Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka, seorang otodidak yang legendaris.

Ketika belajar di Jakarta, Tik Swan sering berkunjung ke rumah Prof. Poerbatjaraka dan berlatih menari Jawa di sana. Dalam perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia ia bersama rombongannya diundang menari di istana. Tariannya sempat membuat Presiden Soekarno sangat terkesan karena Tik Swan memang menari dengan sangat bagus. Tik Swan pun saat itu sudah menggunakan nama Hardjono.

Ketika mengetahui bahwa keluarga Go Tik Swan Hardjono sudah turun-temurun mengusahakan batik, Soekarno menyarankan agar ia menciptakan "Batik Indonesia". Ia tergugah, lalu pulang ke Solo untuk mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk sejarah dan falsafahnya.

Hubungannya yang akrab dengan keluarga kraton Solo memungkinkan Tik Swan Hardjono belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka. Pola-pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum maupun pola-pola tradisional lain digalinya dan dikembangkannya tanpa menghilangkan ciri dan maknanya yang hakiki.

Pola yang sudah dikembangkan itu diberinya warna-warna baru yang cerah, bukan hanya coklat, biru dan putih kekuningan seperti yang lazim dijumpai pada batik Solo-Yogya. Lahirlah yang disebut "Batik Indonesia".

Saat itu warna-warna cerah cuma dipakai pada batik Pekalongan, namun motif batik Pekalongan kebanyakan buketan (karangan bunga aneka warna) yang berbeda sekali dari motif batik Vorstenlanden (Solo dan Yogya) yang biasanya sarat makna.


Sumber: wikipedia

Kamis, 09 Januari 2014

Mengenal Batik Cap Lebih Dekat


Terdapat beberapa macam batik dengan cara pembuatannya yang beragam namun pada kenyataanya terdapat dua cara pembatikkan yang digemari yaitu Batik Tulis dan Batik Cap wonogiren. Batik tulis sendiri digemari karena adanya suatu nilai dibalik pembuatannya sedangkan batik cap digemari karena cara pembuatannya lebih mudah dengan motif yang dapat dikatakan hampir sama dengan batik tulis. Tetapi karena prosesnya tersebut maka harga batik model ini di pasaran cenderung lebih murah ketimbang batik tulis. Terlepas dari itu semua ada baiknya bila dapat memahami sedikit mengenai batik cap itu sendiri.
Batik cap adalah karya batik yang gambar/motifnya dihasilkan oleh cap/penera/klise menggunakan malam. Batik cap menyangkut cetak-mencetak/cap-capan maka harus diperhitungkan sambungan sisi-sisnya. Dalam istilah batik disebut sanggit. Batik cap dibuat dengan menggunakan klise/penera. Penera ini dibuat dari lempengan-lempengan tembaga yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk motif tertentu. Umumnya berukuran 20cmx20cm atau 24cmx24cm atau menurut bentuk motifnya.
Beberapa macam klise/penera dalam membuat batik cap diantaranya: 


  1. Penera Sanggit Tumpuk
  2. Klise ini adalah klise dengan sisi bagian bawah ada sambungan/hubungannya dengan sisi bagian atas. Demikian juga sisi kiri memiliki sambungan/hubungan dengan sisi bagian kanan.
  3. Penera Sanggit Natabata
  4. Klise dengan sisi bagian kiri ada sambungannya dengan ½ sisi bagian kanan dan sisi bagian kanan ada sambungannya dengan ½ sisi bagian kiri.
  5. Penera Sanggit Kitiran
  6. Klise yang memiliki sisi-sisi yang dapat saling berhubungan atau dapat dikatakan semua sisi bermotif sama.
  7. Penera Lepas/Bebas
  8. Klise yang sisi-sisinya tidak ada sambungan/hubungannya sama sekali.
Sehingga dalam pembatikkan cap juga dituntut ketelitian dalam pembuatannya. Apabila satu sisi saja kurang pas dengan sisi yang lain maka karya batik tersebut gagal. Penera dibuat dua buah satu untuk sisi kain bagian atas dan satu lagi untuk sisi bagian bawah. Jadi kalau kedua buah penera ini disatukan aka terbentuk satu keplok. Namun ada juga penera yang dapat digunakan bolak-balik. Penera ini dibuat dua agar pada hasinya nanti optimal tidak ada bagian-bagian yang kabur sehingga diperlukan pengulangan proses pengecapan dengan penera untuk sisi bagian bawah, proses ini disebut nerusi.

sumber: students.ukdw.ac.id/~23090442/expl2.html

Rabu, 27 November 2013

Jual Batik Tulis Murah Banget

Meskipun tidak memiliki label sebagai kota budaya, Kabupaten Wonogiri memiliki potensi budaya dan ekonomi berupa Batik Wonogiri yang tersentra di Kecamatan Tirtomoyo. Tidak kalah dengan kota-kota penghasil batik lainnya di Jawa Tengah seperti Pekalongan, Solo, dan Rembang, kota Sukses memiliki ciri khas tersendiri dalam kreasi corak batik, yakni corak bledak, dasaran (kuning kecoklatan), Sekaran (lukisan bunga), dan babaran (guratan pecah). Corak-corak ini pun telah dituangkan dalam Keputusan Bupati Wonogiri Nomor 431/03/501/1993 untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif ini.
Pasang surut perkembangan produksi batik tulis Wonogiren berawal pada tahun 1910 ketika para abdi dalem Keraton Mangkunegaran Surakarta bertugas di Tirtomoyo.
Kedatangan salah satu juragan batik asal Solo, Martodikromo, pun semakin mengembangkan produksi batik di wilayah itu. Kini, ratusan perajin yang tersebar di beberapa desa di Tirtomoyo menjadi penerus dan bergelut dengan usaha batik. 
Tidak hanya berkutat pada empat motif batik yang ditetapkan oleh Bupati pada 1993 lalu, para perajin kini mengembangkan berbagai motif batik seperti truntum, sidomukti, sidoasih, sidomulyo, wahyu tumurun, latar putih, bledak, parang rusak, dan parang barong. Para wisatawan yang ingin membeli cinderamata berupa aneka kreasi batik dari Tirtomoyo pun tersedia di gerai-gerai di rumah perajin. Kain, pakaian, dan tas batik dapat menjadi buah tangan yang menarik dari kawasan pesisir ini